Home » » B4 = Berbuat Baik itu Butuh Biaya?

B4 = Berbuat Baik itu Butuh Biaya?

Melia Id | 3:46 AM | 2komentar
Pernahkah kita berbuat baik (terus-menerus/continue)? Bosankah kita berbuat baik tanpa mengharap imbalan, tanpa peduli dan memandang kepada siapa kita berbuat baik? Lalu sempatkah kita melupakan kebaikan-kebaikan kita terhadap seseorang tanpa harus membicarakan kebaikan  tersebut kepada orang lain? Apakah bersikap / berkelakuan baik itu membosankan? Wallahualam.
Baik atau kebaikan itu memang sangat relatif dalam pandangan manusia. Namun, manusia diciptakan dari sebuah tujuan yang baik yaitu melakukan pekerjaan baik dan kita semua (lebih-lebih Allah) ingin dan mau kita hidup di dalam kebaikan. Artinya, kita ada di dunia ini dengan maksud dan rencana Allah supaya kita melakukan perbuatan baik yang sesuai dengan kehendakNya.

Melakukan perbuatan baik itu butuh keberanian dan kekuatan, sementara kekuatan dan keberanian tersebut butuh keyakinan / iman. Seperti besi menajamkan besi, maka manusia-pun harus ditajamkan oleh sesamanya dalam melakukan kebaikan. Tanpa keberanian dan kekuatan, kita tidak akan mampu berbuat baik. Ya, Baik atau kebaikan itu  butuh kekuatan melawan hawa nafsu, keberanian untuk dianggap pura-pura baik atau munafik, berani jika ditinggalkan dan dijauhi, kuat apabila kebaikan tidak didengar dan diterima, dan lain sebagainya. 


Ternyata, dalam berbuat baik itu butuh biaya, ada harga yang harus kita bayar yaitu waktu, tenaga, pikiran, tempat, kesenangan dan lain sebagainya. Masalahnya, mampu dan maukah kita membayar harga tersebut? sedangkan kita ingin selalu hidup dalam damai dan kebaikan-kebaikan! Inilah dunia kita, hidup butuh perjuangan. Jika kita ingin keluar sebagai pemenang, maka kita harus belajar dan berlatih dengan serius. Kita perlu bertemu dengan orang-orang yang  membuat kita ingin marah dan sakit hati, kita butuh cemooh dan sindiran, bahkan kita juga perlu peristiwa-peristiwa yang membuat kita kesulitan untuk bernafas. Untuk Apa? Untuk melatih semua organ tubuh kita supaya jiwa raga kita kuat dan berani dalam melakukan kebaikan.,

Alhasil, proses pembentukan karakter menjadi orang baik itu seringkali dialami dengan peristiwa yang menyakitkan. Namun kita jangan kalah dan menyerah dengan situasi yang tidak menguntungkan. Yang penting  kita harus memahami bahwa apabila kita mengalami hal-hal yang menyakitkan di dalam hidup, bukan berarti ini adalah akhir dari segalanya dan masih ada harapan. Semua yang dialami di dalam hidup ada maksud dan tujuannya dimana salah satu diantaranya adalah sebuah proses pembentukan karakter di dalam diri kita. 

Setiap peristiwa yang menyakitkan selalu akan berakhir dengan kegembiraan apabila kita menghadapinya bersama dengan kasih sayang Allah. Kekuatan dan keberanian dalam menjalani kehidupan harus dimodali dengan Iman. Pentingnya kita untuk selalu dekat dengan Sang Pemilik Kekuatan / Allah, supaya kita selalu mendapatkan bekal iman dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan. Dengan Iman, sekencang apapun badai  kita akan membuat kita kuat, dengan Ikhlas seberat apapun beban akan menjadi terasa ringan.

Kita bukanlah orang yang lemah, tetapi kita akan lebih kuat karena ada Allah yang menopang. Oleh karena itu, mari kita memandang hidup ini dengan lebih baik dan lebih yakin lagi bahwa kalau Allah yang bersama dengan kita maka tidak akan ada yang menjadi lawan kita, tidak akan besar biaya yang kita keluarkan. Sebesar apapun harga yang harus kita bayar dalam melakukan kebaikan, selalu dan pasti ada reward atau hadiah yang bakal kita dapatkan. Hadiah didunia berupa rahmat yang datang tidak henti-hentinya dariNYA dan syurga Insya Allah menanti kita setelah kehidupan dunia berakhir. Hiduplah sebagai pemenang, meski bukan pemenang ulung, paling tidak  menjadi pemenang dalam keluarga kita atau menjadi pemenang dalam lingkungan yang sering membuat kita tidak nyaman.

Saya pribadi, bukanlah termasuk orang baik, namun ingin selalu mencoba hidup lebih baik. Saya tidak perduli dengan pandangan manusia dalam melakukan kebaikan, meski orang menilai salah atau tidak benar, tidak pada tempatnya, toh selagi saya bersandar pada pandangan Allah, tidak membebani siapapun, maka saya tetap dalam prinsip, lakukan kebaikan selagi ada waktu, selagi ada daya upaya. Ayo mari berbuat baik...dan jangan malu berbuat baik..bukankah Allah bagi siapa saja. (semoga bermanfaat)

artikel menarik lainnya
Share this article :

2 komentar:

Berbagi Kreativitas said...

Kutipan yang ingin Saya ambil dan garis bawahi "Proses pembentukan karakter menjadi orang baik itu sering kali dialami dengan peristiwa menyakitkan". Pertanyaannya sampai batas mana kita ingin selalu menjunjung tinggi nilai baik tersebut? kenyataan selalu digandrungi kekhawatiran, tidak nyaman dan lain-lain pasti ada. Hanya dengan Iman adalah jawaban number one. Artikelnya manfaat sobat..

melia said...

Pertanyaanya kok dijawab sendiri. Well...Tidak ada batasan apapun dlm menjunjung nilai kebaikan, oleh sebab itu dlm melakukan kebaikan bersandarlah pada pandangan Allah bukan pd pandangan HambaNya. Iman modal utama dan landasan kuat yg hrs kita miliki. Salam sukses. trims atas kunjungan dan komentnya

@Berbagi Kreativitas

Post a Comment

 
Support : Infokutuju
Copyright © 2011. Infokutuju - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website